Selasa, 23 Juli 2019

Tips merawat cat motor

Motor dengan kita yang berjiwa muda memiliki korelasi yang sepadan. Untuk membuat kesan motor selalu tampil prima dan muda, salah satunya dengan memerhatikan cat motor yang menempel padanya. Setelah mengecat motor, seringkali orang melupakan satu hal yang menurut saya sangat esensial. Apa itu? Cara-cara agar warnanya tetap awet seperti ini.

Perhatikan saat mencuci motor

Mencuci motor bukan hanya soal bersih saja, melainkan harus tepat-guna. Terutama ketika motor dicat menggunakan cat doff. Pada umumnya, cat doff itu enggak menggunakan lapisan pernis. Jadi mudah terkelupas ketika menggunakan bahan untuk mencuci yang keliru. Salah satunya ketika mencuci motor dengan menggunakan deterjen.

Sifat deterjen itu cukup keras. Saat saya lama enggak mencuci baju, tiba-tiba kebagian tugas untuk mencuci dalam jumlah banyak dengan deterjen, kulit tangan saja sampai terkelupas. Apalagi untuk cat yang setiap harinya bersentuhan dengan cuaca luar. Panas-dingin-lembap sekaligus. Cucilah menggunakan sabun yang bisa menoleransi warna cat, atau yang memang khusus untuk motor atau mobil.

Beri lapisan coating tapi hindari penjemuran

Usai motor berhasil dicat, langsung pakaikan lapisan coating untuk mempertebal keamanan pada warna cat. Lapisan pelindung ini bisa bersifat temporer ataupun permanen. Tergantung dari bahan-bahan pabrikannya. Tujuannya untuk membuat body motor yang sudah dicat jadi anti gores dalam momen apa pun.

Namun, sekuat-kuatnya pelindung, bisa runtuh juga. Umumnya, hal ini terjadi karena pemilik motor enggak peduli dengan motornya sendiri. Kejadian yang paling sering saya temui adalah motor dibiarkan terjemur di bawah terik matahari. Sinar matahari yang tengah garang-garangnya di jam 10 pagi ke atas bisa berpotensi bikin warna cat jadi memudar.

Langsung keringkan usai mencuci motor

Cat motor yang sudah diaplikasikan selayaknya dijaga sebisa mungkin. Usai mengecat motor bukan berarti tanggung jawab kamu sudah usai. Masih ada hal yang enggak kalah penting dari upaya pengecatan motor, yakni perawatannya. Justru menurut saya perawatan motor itu lebih sulit dilakukan dan perlu waktu yang berkesinambungan agar awet.

Cara mengeringkan motor usai dicuci bukan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari. Kering iya, tapi akan membawa masalah baru pada warna cat motormu. Lebih baik diangin-anginkan saja sambil lap menggunakan kanebo. Sifat kanebo yang lembut cukup ampuh membuat warna cat terjaga. Ketika dikendarai tetap kinclongseperti harapan.

Kurangi penggunaan stiker

Menurutmu apa yang terjadi ketika motor terlalu sering ditempeli stiker? Terlebih lagi kalau sering gonta-ganti stiker. Terlalu sering mengganti stiker bisa bikin warna cat gampang pudar. Pakai stiker motor memang bikin motor terkesan hidup, sebab bisa berbicara lewat kata-kata. Kalau memang merasa perlu, pakai stiker yang berdaya rekat rendah.

Namun, ketika terlalu banyak stiker, menurut saya bisa bikin motor tampak cacat. Coba lihat motormu yang ditempeli stiker hampir di semua bagian. Entah itu stiker berupa kata-kata ataupun berupa gambar. Kesannya enggak keren lagi, justru norak. Lebih parah lagi, keelokan warna cat motormu akan tertutupi.

Pastikan motor betul-betul bersih sebelum dicat

Bersih di sini bukan hanya berarti efek baru dicuci. Maksud saya, bersih dari segala bentuk stiker, debu, kotoran, lem, minyak tanah, ataupun hal-hal yang bertentangan dengan sifat cat. Untuk memastikan betul-betul bersih, lap dulu body motor menggunakan lap yang sudah dilengkapi dengan bensin. Kiranya hal ini bisa bikin warna cat nantinya jadi awet.

Mengecat motor itu sangat sederhana. Para pemula pun bisa mempraktikkannya sendiri. Namun, untuk usaha merawat cat motor biar awet, ini masih kerap jadi problematika yang serius di kalangan senior. Seringnya karena faktor lupa dan enggak hati-hati. Sedangkan faktor kesengajaan menempati urutan setelahnya. Terapkan tips di atas kalau mau berhasil.

Selasa, 06 November 2012

11 Produk Kuno Asli Indonesia, Yang Masih Diproduksi Sampai Kini


11 Produk Kuno Asli Indonesia, Yang Masih Diproduksi Sampai Kini

Produk - produk ini adalah produk asli buatan dalam negeri, mereka sudah ada bahkan sejak Negara ini belum lahir (merdeka), melalui berbagai zaman, revolusi dan perubahan radikal bangsa ini, Produk - produk ini masih terus bertahan untuk tetap eksis di pasaran..

1. Permen Davos [1931]

SOEYATI Soekirman tak pernah luput membawa Davos. Nenek 68 tahun warga Banyumas ini sudah puluhan tahun menggemari permen itu. ”Orang-orang tua memang konsumen loyal kami,” kata Nicodemus Hardi, Managing Director Operasional PT Slamet Langgeng, produsen permen Davos. Permen ini dirintis oleh Siem Kie Djian pada 28 Desember 1931. Lokasi pabriknya tetap sama hingga kini: Jalan Ahmad Yani 67, Kelurahan Kandang Gampang, Purbalingga, Jawa Tengah. Perusahaan dilanjutkan anaknya, Siem Tjong An. Enam tahun berikutnya, bisnis diteruskan lagi ke anak dan menantu Tjong An: Toni Siswanto Hardi dan Corrie Simadibrata. Kini perusahaan tersebut dipimpin oleh Budi Handojo Hardi, generasi ketiga pendiri bisnis ini.

2. Wajik Week [1939]
SEMULA, pada 1939, Nyonya Ong Kiem Lien hanya memasak kue untuk dijual ke tetangga. Ada wajik, onde-onde, keripik tempe, rempeyek kacang, dan jadah (kue dari ketan dan kelapa parut). Usaha ini dilanjutkan oleh anaknya, Ong Gwek Nio, yang kemudian hanya berkonsentrasi pada wajik.


3. Siroop Tjap Buah Tjampolay [1936]
RASANJA sedap, baoenja wangi. Itulah yang tertera dalam kemasan sirup Tjap Buah Tjampolay. Minuman legendaris asal Cirebon ini pertama kali dibuat oleh Tan Tjek Tjiu pada 11 Juli 1936. Hingga kini kemasan dan labelnya tak berubah.

4. Sarang Sari [1934]

Botolnya hijau, mirip botol bir. Tulisan dalam kemasannya tak berubah sejak 75 tahun lalu: Limonadestroop. Sarang Sari, begitulah nama sirup berbotol serupa bir itu, bertahan di tengah gempuran minuman berkarbonat. Cikal bakal sirup ini dimulai dari De Wed Bijlsma, pengusaha asal Groningen, Belanda, yang mendirikan NV Conservenbedrijf de Friesche Boerin pada 1934.


5. Ting-ting Jahe [1935]

NJOO Tjhay Kwee menunggang sepeda pancal mengitari Pasuruan. Kala itu, tahun 1935, Njoo sedang merintis usaha kembang gula Sin A di Pasuruan, Jawa Timur. Kisah ini dituturkan Dyah Purwaningsih, General Manager PT Sindu Permata, perusahaan yang memproduksi ting-ting jahe. Ayu adalah cucu Njoo alias generasi ketiga pemilik perusahaan ini.

6. Tahu Yun Yi [1940]

DALAM bahasa Mandarin, yun yi artinya bermanfaat atau beruntung. Perusahaan tahu yang didirikan pada 1940 itu memang beruntung masih eksis hingga kini. Bisnis tahu Yun Yi dirintis oleh Liauw Hon Tjan di Jalan Jenderal Sudirman Belakang 231, Bandung. Pabrik tahu ini tak pernah berpindah hingga sekarang.

7. Teh Cap Botol [1940]

RIBUAN botol plastik hijau itu bergerak dalam irama teratur di atas jalur roda berjalan. Lalu, plop, plop, plop: letupan mesin memasangkan plastik kemasan ke satu per satu botol yang berisi teh amat panas. Antrean lantas menjalar ke mesin berikut yang memasangkan tutup botol. Dari sini jalur roda bergerak lagi menuju pengemasan akhir. Maka jadilah teh botol merek Joy Tea Green, yang siap dikirim ke jutaan konsumen di seluruh Indonesia serta mancanegara.


8. B29 [1930]

Menurun, tapi tak kehilangan pasar.
PASAR Pagi Jakarta, akhir 1930-an. Sekumpulan ibu-ibu yang sedang belanja di Toko Sewu Gunawan meriung bicara soal sabun. Sabun Cap Tangan, produk Unilever—ketika itu satu-satunya sabun cuci yang beredar di pasar—mendadak langka. Jikapun ada, harganya mahal. Para ibu mengeluh: mereka tak bisa mencuci baju, piring, bahkan mandi.


9. Dji Sam Soe [1913]

RUMAH kuno itu tak lagi berpenghuni. Pagarnya tertutup seng. Ketika didatangi Tempo tiga pekan lalu, tampak empat petugas bergantian menjaga rumah. Di rumah inilah Liem Seeng Tee, pendiri HM Sampoerna, mengawali sejarah pada 1927.
Beralamat di Jalan Ngaglik, Surabaya, rumah ini—selain menjadi tempat tinggal—dulunya berfungsi sebagai gudang tembakau dan pabrik rokok. Selama lima tahun Seeng Tee menguji berbagai campuran rempah dan cengkeh di rumah ini. Dji Sam Soe salah satu produknya. Dari rumah ini pula Dji Sam Soe mulai diproduksi secara masif.


10. Kopi Warung Tinggi [1878]

Beberapa kali berhenti berproduksi, tetap hidup berkat kepercayaan pelanggan. Dulu resep lisan, kini tersimpan di komputer.
BATAVIA, 1878. Restoran di tepian Moolen Vliet Oost—kini Jalan Hayam Wuruk— Jakarta, itu berbeda dengan bangunan lain di sekitarnya. Tampak lebih bagus, lebih besar, dan tinggi. Masyarakat di tepian Ciliwung lalu menyebutnya Waroeng Tinggi. Adalah Liaw Tek Soen, perantau asal Tiongkok, yang membangun warung itu bersama istrinya.


11. Kecap Bango [1928]
Kemasan diremajakan, rasa dipertahankan, penetrasi pasar diperkuat. Jurus inovatif memperpanjang umur.
BANGO itu terbang tinggi. Dari jago lokal, dia menjadi bintang di tingkat nasional. Bermula dari pojok kampung di daerah Benteng, Tangerang, pada 1928, kini sang Bango mudah dijumpai di toko kelontong di hampir seluruh penjuru Indonesia. Delapan puluh satu tahun silam, suami-istri Tjoa Pit Boen (Yunus Kartadinata) dan Tjoa Eng Nio mengawali cikal bakal Kecap Bango di rumah mereka di Benteng. Sayang, jejak awal sudah amat samar. Napak tilas Tempo di kawasan Benteng tak menemukan sarang pertama sang Bango.